~ Eksklusif ~

Kalau mau membuka mata, eksklusivisme itu ada di semua segi kehidupan. Aku memandangnya sebagai cara tercerdas untuk mengangkat daya tawar minoritas. Kuduga itu bermula dari rasa ‘tidak aman’, lalu muncul naluri bertahan, dilanjutkan ke mode ‘menyerang’. Tapi kata kuncinya rasanya tetap pada : eksistensi, pengakuan.

Lanjutkan membaca “~ Eksklusif ~”

~ Tanya ~

Mengapa aku sungguh letih ? Karena aku mencoba memahami riak-riak kehidupan di dunia.

Mengapa aku teramat letih ? Karena aku memandang dan menilai semuanya berdasar persepsi pribadi saja.

Mengapa aku sangat letih ? Karena aku menyalahkan semua yang tak sama dengan kemauanku.

Padahal aku tahu bahwa semua di luar diriku adalah materi belajarku. Padahal aku tahu bahwa materi belajar itu untuk dipahami tanpa dihakimi. Padahal aku tahu bahwa penghakiman itu memerlukan lisensi. Padahal aku tahu bahwa lisensi itu tidak kumiliki. Padahal aku tahu bahwa mendapatkan lisensi itu memerlukan proses belajar yang memadai lebih dulu.

Bukankah aku telah diajarkan untuk memandang apa adanya ? Bukankah aku diberitahukan untuk memandang dari semua sisi terlebih dulu ? Bukankah aku dibiasakan untuk menggunakan empati dan penalaran ? Bukankah aku diposisikan sebagai siswa yang mampu mengakses banyak acuan ?

Mengapa aku letih sekali ? Karena aku tak tahu diri, lupa jati diri, mencoba melampaui batasan Ilahi.

Keletihanku adalah bukti kenaifan arogansi pribadi. Duh, Gusti.


Pine@Malu – 140721 : 0924

~ Koreksi ~

Kejadian di awal hari ini tiba-tiba membawaku pada percakapan yang terjadi beberapa tahun lalu, saat aku menghadapi krisis besar dalam hdupku. Seseorang setengah sinis, mencoba memojokkanku, dengan bertanya : salah siapa hingga terjadi seperti ini ?

Tentu saja, setengah otomatis, nyaris tanpa pikir panjang, aku menjawab : salahku.

Lanjutkan membaca “~ Koreksi ~”

~ Terputus ~

Dalam kondisi seperti ini, ketika pandemi mengalami gelombang kedua, lebih dahsyat segalanya, dibarengi pancaroba dan kemurungan cuaca, perasaan terombang-ambing dalam keterbatasan gerak hidup dan beraktivitas. Rasa ini telah mensimulasikan miniatur penjara. Serba terkendala.

Kukatakan rasa, karena sebenarnya, pilihan itu masih banyak terbentang di depan mata, siap diambil kapan pun, jika mau.

Lanjutkan membaca “~ Terputus ~”
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai